Ketika sahabatku harus berkorban

June 18, 2007 by rizda

 

Tidak terasa sudah lima tahun lebih aku tidak menemuinya, kaget dan terharu bercampur baur dalam pikiran ku. Sejak lulus Sekolah lanjutan tingkat pertama aku dan dia sudah berpisah cukup lama. Aku teringat akan kenangan bersamanya ketika kami masih aktif di Osis (organisasi intra sekolah) SLTP Negeri 4 Bekasi, aku sebagai ketuanya, dan ia sebagai sekjennya. Lika-liku persahabatan selalu ku lewati bersamanya, terkadang ketika waktu istirahat tiba, biasanya teman-teman pergi ke kantin untuk sekedar bercengkrama  dan membeli jajan. Tapi lain hal dengan Ahmad, krtika istirahat tiba ia hanya terduduk diam di taman, dan terkadang menundukkan kepalanya di atas meja belajar di kelas. Merasa diriku sebagai teman akupun tak tega melihatnya, dan ketika ku mengajak untuk membeli jajan, ia menolak. Berulangkali ku ajak ia selalu menolak, dan ternyata memang benar Ahmad setiap kali sekolah tidak pernah membawa uang jajan, pantas ia tidak pernah terlihat jajan di kantin. Suatu hari aku membawa roti panggang buatan ibuku yang sengaja dan sedikit agak memaksa aku menyuruh Ahmad makan bersama dengan ku, alhamdulillah ia akhirnya mau. Sosok Ahmad dikenal sebagai pribadi yang pendiam, jarang sekali teman-teman di kelas yang tahu akan kondisi kehidupannya. Ia hanya mau membuka dirinya ketika sesseorang merasa dekat dengan dirinya. Ya begitulah pengalaman masa laluku 

 Namun setelah ku bawa pikiranku pada kenangan masa lalu, tiba-tiba aku tersentak ketika Ahmad, sahabat karibku itu mengatakan bahwa ia baru saja mengikuti kebaktian di gereja di dekat seberang terminal Bekasi.

Sejak kecil ahmad yang kini mempunyai nama Kristen Yosef hidup dalam kemiskinan. 3 tahun belakangan ini Ayahnya di PHK akibat pengurangan karyawan sejak krisis moneter ’98. Ibunya yang dulu bekerja sebagai wiraswasta di sebuah toko, kini sudah tidak bisa melanjutkan usahanya lagi. Sakit yang dideritanya selama 2 tahun terakhir, akibat strouk dan kelumpuhan membuatnya harus terbaring di atas tempat tidur.

Usaha Ahmad dan Ayahnya untuk mengobati Ibunya, tak kunjung berhasil, karena terhambat masalah biaya, akhirnya Ahmad dan Ayahnya pun tak kuasa untuk membawa Ibunya untuk operasi dengan biaya sebesar 10 juta Rupiah.

Keadaan ini terus melanda kehidupannya, belum lagi 2 orang adiknya, Hanif kelas 3 SD dan Fitri kelas 1 SMP. Setiap harinya mereka membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ditambah biaya sekolah kedua adiknya yang

 

setiap bulan sekolah menagihnya, Ahmad sendiri telah memutuskan untuk berhenti sekolah demi

 

kedua adiknya, dan Ia lebih memilih untuk mencari uang dengan menjadi tukang semir sepatu, dan terkadang Ia suka memungut barang – barang bekas di pinggir jalan, yang bisa Ia tukar dengan uang. Penghasilan Ayahnya, Darmaji tidak bisa membantu biaya untuk hidup keluarganya, karena Ayahnya hanya bekerja serabutan sebagai tukang panggul beras di pasar. Keadaan ini mereka rasakan selama bertahun – tahun lamanya. Sampai pernah suatu hari, Ahmad seperti biasanya menunggu pelanggan di stasiun kereta api Bekasi, betapa senangnya hati Ahmad karena ada seorang pelanggan yang minta disemirkan sepatunya. Alhasil Ia mendapat upah sebesar 10 ribu, ketika Ia selesai menyemirkan sepatu, Ia pergi ke kamar kecil dan meninggalkan kotak semir beserta uangnya di tempat biasa Ia mangkal. Tanpa di duga sekembalinya Ia dari kamar kecil, uang dan kotak semirnya lenyap tanpa menghilangkan jejak. Bagai disambar petir disiang hari, perasaan Ahmad sedih tak terkira karena benda yang selama ini menjadi tumpuan hidup untuk membantu mencari nafkah Ayahnya sudah tidak bisa lagi Ia dapatkan. Ahmad mencoba mencari – cari kotak semirnya, tak ketinggalan Ia bertanya kepada orang yang berada disekelilingnya. Alhasil usaha Ahmad tidak membuahkan hasil, kotak semir dan uang Rp. 10.000 yang baru saja Ia dapatkan tak Ia temukan. Akhirnya Ahmad pulang ke rumahnya dengan perasaan sedih dan perut yang lapar, sebab sejak tadi pagi Ia velum sarapan, Ia lebih memilih untuk memberikan sarapan pagi itu untuk kedua adiknya dan Ibunya yang masih terbaring sakit ditempat tidur. Sudah tiga hari Ayah Ahmad tidak pilang ke rumah. Tak ada kabar yang datang tentang keadaan Ayahnya yang sedang pergi ke luar kota untuk mencari tambahan nafkah.

Setibanya Ahmad di rumahnya, tiba – tiba Ia melihat kerumunan orang dan yang mengherankan lagi di depan rumahnya terpasang bendera putih pertanda kematian. Dalam hatinya Ia bertanya siapakah gerangan yang meninggal, apakah Ibunya yang sakit bertahun – tahun, adiknya yang masih kecil – kecil ataukah Ayahnya. Pak Midun datang menghampiri Ahmad dan mencoba menenangkan perasaan Ahmad karena dari penuturan pak Midun tetangganya  Ayahnya sejak pagi tadi ditemukan tewas tertabrak kontainer di jalan raya kota.

 

Betapa sedihnya berkeping – keping perasaan Ahmad karena baru saja Ia kehilangan kotak semirnya, Ia sudah mendapat musibah lagi Ayahnya yang tewas tertabrak container. Ahmad, Ibunya dan Adik – adiknya tak henti – hentinya menangis karena musibah yang menimpanya.

Setelah Ayahnya meninggal keadaan keluarga Ahmad semakin memprihatinkan karena sumber pencari nafkah sudah berkurang. Terkadang sehari – hari Ahmad dan keluarganya tidak makan. Bingung mencari makan, mencari hutangan pun tidak mungkin, sebab kondisi para tetangganya pun hidup masing – masing. Sampai tiba pada suatu hari, ketika Ahmad duduk di emperan sebuah gereja, ketika Ia hendak mencari bekas gelas – gelas aqua untuk makan hari itu, tiba – tiba saja Ia terlelah dan duduk di depan gereja, Ia hampir putus asa, karena bekas aqua sudah  tak tersisa karena sudah lebih dulu diambil oleh para gelandangan yang berada di sekeliling stasiun Bekasi.

Ketika matanya menengadah keatas, tiba – tibas aja Ia mendengar suara seorang laki – laki tua, berdasi dan berpakaian rapi dan menyuruh Ahmad ikut masuk ke dalam gereja untuk mengikuti acara kebaktian dan doa bersama yang dilaksanakan setiap hari Minggu di gereja itu. Tanpa ragu – ragu Ahmad menuruti kemauan laki – laki tua itu dan Ia ikut bersama dengan orang – orang yang sedang membaca pujian – pujian untuk dipersembahkan kepada Yesus Kristus. Laki –laki tua yang bernama Pendeta Markus Yohanes bertanya kepada Ahmad “siapa nama kamu, dan kenapa kamu bisa berada disini?” Tanya pendeta Markus Yohanes. “Nama saya Ahmad Fauzi saya sedang beristirahat disini karena kelelahan mencari barang – barang bekas di jalan untuk makan saya dan keluarga.” Tanpa pikir panjang pendeta itu langsung menawarkan Ahmad untuk datang setiap hari Minggu untuk mengikuti kebaktian dan doa bersama di gereja itu. Karena menurut pendeta itu setiap selesai acara akan dibagikan bingkisan menarik dan uang untuk setiap anak – anak jalanan yang mengikutinya. Karena tergiur dengan tawaran pendeta itu, Ahmad menuruti permintaan pendeta itu dan setiap minggu Ahmad datang ke gereja untuk mengikuti kebaktian dan doa bersama.

Selama satu bulan pasca Ahmad rajin mengikuti kebaktian Ibu dan kedua adiknya bisa memenuhi kebutuhan perutnya yang lapar. Bahkan semenjak Ahmad bercerita tentang kedua adiknya yang butuh biaya sekolah, pendeta Markus bersedia menanggung biaya sekolah biaya sekolah kedua adiknya dari Yayasan “Kasih Kristus” yang dipimpinnya. Bahkan rencananya Yayasan itu juga akan membantu biaya pengobatan Ibunya untuk operasi. Sejak saat itu ahmad diminta untuk mengajak kedua adiknya untuk ikut kebaktian setiap hari Minggu. Tanpa berfikir, mereka bertiga rajin mengikuti kebaktian dan setiap selesai mereka mendapat 3 bingkisan menarik dan amplop berisi uang untuk masing – masing.

Sungguh satu hal yang terpikir tatkala ku merenungi dengan apa yang terjadi pada Ahmad, sahabat ku itu. Apakah selama ini para tetangga, orang-orang mampu yang dekat di lingkungan tempat tinggal Ahmad, sudah tidak peduli dengan kondisi kemiskinan saudaranya sendiri ?. ya Robbi…. Ampunilah hamba-Mu ini.

 

Hello world!

June 7, 2007 by rizda

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!